Bunyi kerik jangkrik samar-samar terdengar dari luar, seakan berusaha mengisi kesenyapan yang ada di kamar Dinda. Gadis itu kini tampak tegang, postur tubuhnya saja terlampau tegak melebihi biasanya. Kalau ada stetoskop yang ditempelkan ke dadanya sekarang, mungkin akan terdengar jelas betapa palpitasinya berpacu amat cepat.

“Kamu mau tidur apa mau merenung?”

Seloroh dari Mas Raihan seketika menyentak Dinda, membuat perempuan itu berusaha mengatur napasnya sendiri sebelum mulai bicara. Ia tidak sadar, cowok yang tengah berdiri dengan bersandar di tembok yang dingin sedang menatapnya dengan senyuman yang dikulum.

Setelah merasa tubuhnya tidak terlalu menggigil—kebiasaannya jika gugup—dengan pelan, Dinda menurunkan tubuhnya ke belakang. Pun ketika akhirnya badannya seutuhnya berbaring di atas kasurnya, tangannya juga bergerak lambat saat menarik selimutnya untuk menutupi dirinya.

Sial, gue kayak robot.

Pemandangan Dinda masih berupa atapnya yang berplafon PVC, belum beralih ke mana pun. Ia benar-benar tidak bisa menutup matanya. Dinda sendiri tidak tahu solusi apa yang cocok untuk kondisinya sekarang. Eksistensi Mas Raihan di kamarnya ternyata tidak membantunya, malah membuatnya salah tingkah.

Atau jangan-jangan, caranya yang salah?

Dengan jemari menggenggam erat ujung selimut, Dinda akhirnya menolehkan kepalanya ke sisi kanan, tepat di mana Mas Raihan masih berdiri sambil bersedekap. Cowok itu tak bicara, hanya mengangkat kedua alisnya, isyarat bertanya-tanya kenapa Dinda tiba-tiba melihat ke arahnya.

Namun, Dinda juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu malah mengubah posisi tidurnya sehingga menjadi menyamping ke kanan. Mendadak terjadi adu tatap antara Dinda dan Mas Raihan. Cowok berkaus hitam itu pun tidak lagi bertanya melalui bahasa tubuh.

Entah kenapa, Dinda merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Memandang Mas Raihan yang berdiri dengan tenang membuat dada Dinda bergerak naik turun dengan teratur. Kegugupannya sudah hilang entah sejak kapan, tetapi tetap saja matanya belum menunjukkan tanda ingin menutup.