Tidak seperti kafe pada umumnya, tempat nongkrong anak muda itu tidak benar-benar bising. Musik yang sengaja diputar oleh pegawainya pun bukanlah musik yang tergolong populer sekarang, justru lebih masuk dalam kategori musik instrumental klasik tanpa ada lantunan kata. Pantas saja orang-orang di sana bisa betah dengan laptop atau buku mereka. Hanya segelintir orang yang datang bersama teman, rekan, atau bergerombol. Mungkin tempat ini menjadi sweet escape mereka, tersebab menyediakan apa yang mereka butuhkan dan mereka cari; seutuhnya menepi dengan ditemani ketenangan dan kesunyian.

Lonceng kecil bergemerincing saat pintu kaca di bawahnya terdorong ke dalam. Lelaki tinggi yang menggerakkannya melongokkan kepalanya, mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri, seolah sedang mencari seseorang.

“Pak Raihan? Tumben ke sini nggak kabar dulu?”

Seorang pria muda berusia sekitar dua puluh tahunan bergegas menghampiri Raihan. Namun, yang disapa hanya menepuk bahu cowok tersebut dan berlalu melewatinya. “Saya udah bilang ke Pras tadi kalau saya mau ke sini.”

Namun, sang penyambut tetap bergeming dan matanya berkedip cepat memandang bosnya melangkah menjauhinya. Dengan satu tangan masuk ke dalam saku celananya, Raihan memberhentikan kaki jenjangnya dan merotasikan setengah badannya. Ditariknya satu sudut bibirnya ke atas. “Tenang aja, Gas. Saya nggak mau inspeksi mendadak. Lanjutin aja kerjaan kamu.”

Baru berbalik sedetik, Raihan kembali memutar tubuhnya dengan mengacungkan jari telunjuknya. “Oh ya. Seperti biasa, ya.”

Sepasang sepatu kets putih mengambil langkah lebar lagi demi menyusuri satu per satu barisan meja. Senyumnya mengembang lebar saat dilihatnya seseorang bersurai gelap legam tengah menyangga keningnya yang mengernyit dengan alis menukik ke atas. Jemari tangan kanannya seperti tidak bisa berhenti terus menekan layar ponsel hitamnya.

“Keriput makin banyak tuh di muka. Makin tua tau rasa.”

Menyadari ada yang sudah mengambil posisi di seberangnya, tanpa mengucap salam atau meminta izin, sang pria yang mengenakan kemeja motif zebra tersebut akhirnya mendongakkan kepalanya. Ditatapnya Raihan dengan mendecak kesal. Nadanya terdengar sarkastis. “Makasih.”

Tangan lelaki itu sudah tak lagi menggenggam ponsel, tetapi berganti ke rambutnya sendiri, mengacaknya tak berarah. Rautnya masih tak mengenakkan. Melihat frustrasi temannya itu, Raihan justru melepaskan tawanya begitu saja.