Entah bisa dibilang mujur atau bukan, kebetulan sekali ketika Mas Raihan sampai di rumah Dinda untuk menjemput gadis itu, Bunda dan Ayah ternyata baru selesai bersiap-siap untuk menghadiri kondangan. Alhasil, Bunda tidak bisa menahan kedua muda-mudi tersebut lama-lama di rumah. Bunda memang menyuruh Mas Raihan untuk masuk, tetapi hanya bisa sekadar menyuguhkan minuman. Mas Raihan sudah menolak dan Dinda pun bersikukuh bahwa mereka sudah ditunggu, tetapi watak keras kepala Bunda tentu tidak akan hilang dalam waktu semalam, ‘kan?
Namun, pada pengujung hari, Dinda menganggap kebetulan tersebut benar-benar sebagai keberuntungan untuknya.
Selama beberapa pertemuannya dengan orang tua Mas Raihan, Dinda tidak terlalu memedulikan, apalagi memperhatikan sikap dan sifat mereka. Namun, begitu tiba di rumah Mas Raihan, Dinda langsung bisa merasakan kehangatan di sana. Rumah tersebut didominasi oleh warna putih dengan dua lantai dan halaman depannya sangat hijau. Banyak tanaman hias dan tumbuhan di sana yang terawat dengan apik.
Lebih dari itu, Dinda mendapat sambutan dan perlakuan yang sangat ramah, melebihi ekspektasinya sebelum tiba di sini. Dinda merasa lega, karena dia tadi sukses mengajak Mas Raihan membeli buah dulu—meskipun harus dengan melalui perdebatan kecil, sebab Mas Raihan menolak dibawakan sesuatu oleh Dinda. Tampak sekali Mama dan Papa Mas Raihan amat gembira menerima bingkisan keranjang buah dari Dinda. Walaupun Dinda tidak berniat menikah sungguhan dengan Mas Raihan, tetapi dia tidak ingin meninggalkan kesan buruk di mata orang tua Mas Raihan.
“Raihan tuh seneng banget sama semur dagingnya Mama.”
Benar saja, hal pertama yang mereka lakukan begitu mendekati jam makan siang—setelah berbasa-basi sebentar di ruang tamu—adalah agenda memasak. Mas Raihan pun terjebak oleh Papa yang mengajaknya bermain catur, sehingga terpaksa meninggalkan calon istrinya hanya berdua bersama mamanya.
Sementara itu, di dapur, Dinda hanya bisa meringis dan kebingungan ketika melihat aneka macam bahan di depannya. Dia sama sekali tidak mengerti apa saja itu. Paling mentok, yang dia lakukan di dapur adalah membuat telur mata sapi dan menanak nasi. Dinda belum pernah meracik makanan sendiri.
Mama Mas Raihan yang sedang menyiapkan bumbu-bumbu pun menoleh ke Dinda. Senyuman terulas di wajahnya. Sambil tangan dan mata bekerja untuk meracik bahan, wanita paruh baya itu berkata dengan lembut, “Mama dulu waktu awal nikah, sama sekali nggak bisa masak. Bisanya cuma bikin mi ala anak kos. Untung aja, papanya Raihan mau nerima Mama yang begini.”
Dengan setengah kikuk, Dinda ikut menaikkan kedua tulang pipinya seraya menyaksikan Bunda yang menyalakan kompor.
“Nah, sebelum nikah, Mama diajarin sama neneknya Raihan, ibunya Mama, gimana caranya masak. Wah, Ibu kalau ngajarin, Din… pake SKS alias sistem kebut semalam! Mau nggak mau, hari itu juga, Mama udah harus ahli motongin semua bahan makanan dan udah harus hafal bumbu-bumbu dapur.”