https://open.spotify.com/track/5cwCW4r6ybpSiHWMpMKHoJ?si=3nl85bKcSLO3swOFxLu6hA&dl_branch=1
Dinda mesti banyak bersyukur hari ini. Tadi pekerjaannya tidak sepadat kemarin, jadi dia bisa curi-curi waktu untuk tidur siang—tidur kucing sebenarnya, tapi lumayanlah.
Ah, Mas Raihan.
Cowok itu rupanya sudah anteng di dalam sebuah kafe, tepat di pinggir jendela. Sebenarnya, seluruh dinding kafe tersebut berupa jendela kaca besar. Dinda tahu betul betapa terkenalnya kafe ini. Heaven Café termasuk kafe favorit Mia, dan rekan kantor Dinda juga sering membicarakan tempat nongkrong tersebut. Mas Raihan yang kemarin menentukan tempatnya. Dinda yang sudah kepalang stres cuma bisa menerima dengan pasrah tawaran Mas Raihan.
Tak jauh berbeda seperti tempo hari lelaki itu bertandang ke rumah Dinda, hari ini pun Mas Raihan tampil perlente. Rambutnya yang seleher itu tampak agak klimis dengan setelannya kemeja putih bergaris-garis tipis hitam serta celana biru tua. Jam yang melingkari pergelangan tangan kanannya jelas menunjukkan bukan dari jenama murahan. Kancing di lengan kanan dan kirinya sama-sama tidak ditautkan. Sepasang matanya sibuk tertuju pada buku catatan kecil di pangkuannya yang disandarkan pada pinggiran meja. Tangannya pun dengan lincah berayun menggoreskan tinta di sana. Namun, hal tersebut tidak memengaruhi impresi Dinda atas cowok itu. Dia tetap menganggap Mas Raihan sebagai orang asing yang aneh.
“Malam, Mas. Maaf, aku telat.”
Dinda buru-buru menarik kursi di seberang Mas Raihan. Menyadari kehadiran Dinda, Mas Raihan tampak tidak terkejut sama sekali dan hanya mengangguk pelan. Segera ditutupnya bukunya dan diletakkannya di atas meja.
“Ini….” Mas Raihan mengambil sebuah kertas dari dalam map bening di kursi sebelahnya. “… surat yang aku bilang kemarin. Silakan, kamu baca dulu.”
Bibir Dinda sedikit melengkung ke bawah. Intuisinya bilang, Mas Raihan itu orang yang suka berterus terang, tak mau basa-basi.
Dengan teliti, Dinda membaca kertas putih di tangannya. Setelah beberapa menit berlalu, ia memiringkan kepalanya ke kanan. Dahinya mengercit, menunjukkan ia belum paham titik hubung penawaran Mas Raihan yang akan menguntungkan dirinya.