Mungkin banyak perempuan di luar sana yang akan mendambakan posisi Dinda sekarang. Punya suami tampan dan menantu idaman semua keluarga, orang-orang yang berbahagia, lingkungan yang tampaknya baik-baik saja, dan status baru yang bagi sebagian orang masih berupa impian.

Itu mungkin yang dirasakan mereka, tetapi Dinda sebagai tokoh utama malah merasa tidak nyaman. Mendapat ucapan selamat tiada henti dari saudara-saudaranya serta senyum bahagia yang terpancar dari wajah mereka tidak lantas membuat Dinda senang—belum lagi dengan reaksi netizen yang membludak dan sama sekali di luar prediksinya. Bibirnya sedari tadi tidak akan bergerak ikut menyungging jika tidak ia paksa. Bisa disebut keberuntungan, tersebab orang-orang lebih berfokus pada selebrasi kecil-kecilan dan momen menggembirakan ini, sehingga mereka tidak menyadari raut gelisah Dinda.

Kecuali satu orang, sepertinya.

Sosok yang duduk di sebelah Dinda itu tak bisa mengabaikan perempuan yang beberapa jam lalu sah menjadi istrinya tersebut. Meski ia kelihatannya sibuk bertanggung jawab mengambil alih rentetan pertanyaan bertubi-tubi dari rekan dan kolega, ekor matanya menangkap bergemingnya Dinda yang tidak biasa. Gadis itu mendadak lebih banyak diam dan mengatupkan bibirnya, padahal setengah jam yang lalu, dia membiarkan letupan emosinya keluar kepada Awan. Riasan sederhana di muka Dinda nyatanya tak bisa menutupi perasaannya.

“Dinda izin ke kamar mandi, ya.”

Seluruh mata tertuju kepadanya, termasuk Raihan. Lelaki itu terus mengamati Dinda yang kian menjauh dari halaman belakang rumah.

“Duh.”

Lantai marmer di ruang keluarga baru saja mendapatkan tamu baru. Sepasang sepatu berhak tinggi milik Dinda sudah tergeletak begitu saja di sana, membiarkan kaki jenjang yang memakainya sebelumnya kini menapak tanpa alas. Namun, Dinda tak berjalan terlalu lama. Ia memilih salah satu dudukan paling ujung di antara sofa berbentuk L. Dirabanya tumitnya yang sudah berwarna merah. Merasa sedikit perih, ia meringis. Karena pikirannya sedari tadi terdistraksi oleh ponselnya yang tidak berhenti menderingkan notifikasi, ia jadi tidak sadar bahwa area bagian bawah kakinya sudah lecet.

Raut wajahnya langsung memudar ketika ia mendengar suara sepatu pantofel di ruangan tersebut. Kepala Dinda mendongak setelah sebelumnya menunduk untuk mengamati kakinya.

“Kok Mas ke sini?”