“Lo egois bener jadi bestie.”
Baru sedetik Dinda kaget, orang yang ditunggunya tiba-tiba sudah menepuk bahunya dan memburunya dengan segala ungkapan ekspresi kekesalannya. Cewek berambut sebahu itu mengercingkan alisnya dan langsung mengambil spot di seberang Dinda.
“Lo nggak bilang kalau Mas Raihan owner kafe ini!”
Namun, Dinda cuma menarik napas dan segera memasukkan ponselnya ke tas tangannya. “Udah, ah, cabut sekarang.”
“Eh! Bentar! Gue belum beli kopinya!”
Pipi Dinda mengembung, berisi udara yang berusaha Dinda tahan agar tidak keluar. Kelopak matanya tertutup, tak mau menyaksikan pertemuan pertama Mia dengan Mas Raihan. Indra pendengarannya saja sudah menangkap teriakan Mia yang lantang.
“Temennya Dinda?”
Mendengar suara yang tak asing, terpaksa Dinda membuka lebar-lebar pandangannya. Yang dilihatnya detik itu juga adalah Mia yang menganga lebar, tanpa berkedip sama sekali. Atensinya tak lain dan tak bukan adalah Mas Raihan yang sudah berdiri dengan membawa buku menu. Satu lagi, lengan kemeja pria itu tergulung hingga siku, memperlihatkan tangannya yang meskipun tidak kekar, tetapi cukup berisi.
“Mia, 911-nya Dinda.”
Dinda cuma mengulum senyum sambil menggelengkan kepala. Uluran tangan Mia menunjukkan niat baiknya kepada Mas Raihan, yang tentu saja disambut dengan ramah oleh cowok berhidung mancung itu.